Doa "Adik" Cristiano Ronaldo Dari Tibang

Senyum fans "Setan Merah" Manchester United bukan hanya milik penghuni The Theatre of Dreams. Bocah ajaib dari Tibang, Martunis

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Menggores Damai Di Kanvas Aceh...

Ratusan bocah-bocah belasan tahun di Banda Aceh dengan semangat mengikuti lomba melukis. Kali ini bukan melukis tentang tsunami seperti yang marak beberapa bulan silam. Tapi sekarang tentang perdamaian. Menarik memang, ketika damai itu digores anak-anak.

Dulunya, jika anak-anak diajak melukis yang digambar pasti soal senjata, granat dan rumah-rumah yang terbakar. Lalu, ketika musibah dahsyat tsunami menghayak Aceh, giliran gelombang dan orang-orang berlarian ke segala arah yang digambarkan.

Semua itu sudah berlalu, kini mengisi masa damai. Hasil goresan pun berbeda pula. Tidak seperti biasanya. Apik dan menarik. Semua kegiatan tersebut dirangkum guna menyambut 2 tahun perdamaian Aceh pada 15 Agustus nanti. "Bergandeng Tangan, Merenda Damai" itulah tema acara itu.

Tentu saja, hajatan tersebut digelar Badan Reintegrasi Damai Aceh (BRA). Mulai dari Duek Pakat Ulama dan Tokoh Masyarakat Aceh "Pikee Keu Damee" hingga Lomba Lukis dan Menulis Surat Anak untuk Perdamaian Aceh.

Faurizal Moechtar, ST, staf BRA Pusat kepada Waspada, kemarin mengatakan pihaknya juga akan menggelar Tour Perdamaian Keliling Aceh, pada 15 Agustus nanti. Katanya, kegiatan tersebut akan 15 becak yang mulai bergerak dari Banda Aceh.

Untuk tour perdamaian tersebut, para peserta akan mengusung atribut-atribut serta buletin perdamaian ntuk dibagi-bagikan kepada masyarakat. "Kita targetkan 10 hari keliling Aceh itu akan selesai," ujarnya.

Bukan cuma itu, dalam tour tersebut selain abang becak, juga akan ikut puluhan mahasiswa yang akan diawal foreder serta satu unit mobil ambulan. "Setiap masuk kabupaten kota mereka akan disambut dan dilepaskan oleh BRA setempat," sebut Faurizal yang juga Koordinator Bidang Ekonomi BRA.


Menurut mantan aktivis ini, ketika berbicara damai mendengar suara hati anak-anak adalah langkah tidak salah dan bijaksana. Toh, anak-anak paling punya hak menikmati perdamaian ini. Dan itulah yang dilakukan lembaga reintegrasi ini dalam memperingati dua tahun perjanjian damai yang diteken pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia.

"Saya terharu melihat goresan anak-anak. Apresiasi mereka tentang perdamaian sangat luar biasa," kata Faurizal mengomentari aksi 210 anak-anak di Banda Aceh yang mengikuti lomba lukis dimaksud. Acara yang digelar di kompleks Meuligoe Gubernur Aceh, pada Senin (6/8) petang itu, berlangsung sukses.

Begitu pula dengan Tijana Syarafana, salah satu peserta lomba lukis. Siswa SD Percontohan Lamlagang mengaku senang dengan kondisi Aceh yang sudah damai. "Kemana-mana kita nggak takut lagi, nggak ada suara bom," celotehnya.

Ketua Harian BRA, M Nur Djuli yang menyempatkan diri menengok apresiasi anak-anak di atas kertas menyambut positif kegiatan tersebut. Bukan hanya sebatas itu, dia juga mengaku kagum dan tak menyangka, ketika melihat lukisan karya anak-anak. "Bagus-bagus dan menarik," komentarnya.

Goresan anak-anak yang dilihat Nur Djuli bervariasi, ada yang menggambar orang bersalaman, pos TNI dan GAM, bendera merah putih dan bendera GAM. "Isinya tidak ada lagi unsur-unsur kekerasan dalam pikiran anak-anak serang, semuanya sudah damai. Positif sekali," sebutnya.

Kendati menarik, kita harus menunggu sepekan lagi untuk menunggu siapa pemenangnya. Tapi yang penting damai sudah tersemai. (b05) 07/08/07-------


Foto: lintasgayo

"Kalau Damai, Dengan Becak Bisa Keliling Aceh..."

Perjalanan keliling Aceh yang dilakukan tim Tour Becak Perdamaian disambut antusias oleh warga beberapa daerah yang disinggahi. Kegiatan tersebut dalam rangka "Refleksi 2 Tahun MoU Helsinki". Kini mereka sudah tiba kembali di Banda Aceh.

Tour Becak Perdamaian yang diikuti 30 peserta serta melibatkan 15 unit becak itu memulai start pada 15 Agustus lalu, saat peringatan dua tahun Mou Helsinki di Blang Padang Banda Aceh. Rombongan becak dilepas Gubernur Irwandi Yusuf.

Setelah menempuh perjalanan selama delapan hari, Rabu (23/8) petang, mereka kembali tiba di Banda Aceh. Ketua Badan Reintegrasi Damai Aceh (BRA) M Nur Djuli menyambut mereka dengan jamuan makan malam bersama di Restoran Meuligoe Gubernur Aceh.

Dalam acara penyambutan serta pemberian sertifikat itu, sejumlah peserta menceritakan suka dukanya selama perjalanan. Termasuk harus melawan derasnya hujan dan dinginnya Kota Kabanjahe, Sumatera Utara ketika malam melintas kawasan itu.

"Di Sumatera Utara, romobongan becak ini disangka dalam rangka memeriahkan Hari Kemerdekaan 17 Agustus, sehingga mayarakat di sana meneriakkan "merdeka..., merdekaaa," cerita Muhajir, koordinator tim.

Sedangkan, peserta tertua Syamaun yang akrab dipanggil Ayah, turun berbagai cerita
selama dalam perjalanan. Apalagi medan yang dilalui juga cukup berat. Namun semua tantangan itu berhasil mereka lalu sehingga tiba kembali di Banda Aceh.

Sementara Ibrahim, peserta lainnya mengungkapkan dengan perjalan keliling Aceh yang mereka lakukan itu, dia banyak menangkap keharuan. Apalagi saat disambut dengan antusias oleh warga setempat. "Bahkan kami dipeusijuek juga," cerita dia.

Katanya, yang ingin disampaikan bukan hanya persoalan bagaiaman sambutan di setiap daerah. Tapi, lanjut Ibrahim dia ingin merasakan aura perdamaian yang membumi di tanah rencong. "Kalau damai, dengan becak pun, kita bisa keliling Aceh," tukasnya.

Lain lagi dengan Junaidi, peserta lainnya dari Jeumpa Mirah. Dia merasa kagum melihat keindahan alam di pelosok Serambi Mekah. Tapi dia sedikit prihatin melihat anak-anak sekolah di sebuah daerah di Subulussalam.

Disebutkannya, anak-anak tersebut bersekolah dengan apa adanya. "Lebih baik jika damai itu dari berbagai sisi," ungkap Junaidi. Sayangnya, dia tak ingat lagi, nama daerah yang membuat empatinya mencelat.

Ketua BRA, Nur Djuli ketika menyambut semua anggota tim Tour Becak Perdamaian yang kembali dengan selamat mengungkapkan rasa bangganya. "Perdamaian itu jangan dilihat sebatas salam-salaman dan berpelukan seperti yang terlihat di televisi," ujarnya.

Akan tetapi, sambung Djuli, perdamaian itu harus membumi di masyarakat lapisan bawah. "Perdamaian ini untuk rakyat kelas bawah, grass rood," katanya. Karena itu pelibatan abang becak dalam tour pedamaian ini, seakan menjadi "simbol" dari golongan yang dimaksud.

Kemudian, Faurizal Moechtar, Ketua Panitia "Refleksi 2 Tahun MoU Helsinki" kepada Waspada mengatakan tour perdamaian disambut antusia masyarakat yang cinta perdamaian. Apalagi, peserta tour juga mengusung atribut-atribut perdamaian untuk disuarakan seluruh Aceh.

24/08/07

Inong Balee Dalam Zaman Aceh

MEMANG tak terbantahkan, Aceh identik dengan perjuangan wanita-wanita perkasa. Banyak tokoh wanita hebat lahir di Aceh. Tahun 1400-1428, tercatat seorang raja wanita bernama Ratu Nihrasiyah memegang pemerintahan di Kerajaan Samudera Pasai.


Pada tahun 1585-1604 seorang perempuan bernama Laksamana Malahayati memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV. Malahayati tercatat memimpin perang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda tanggal 11 September 1599, dan mendapat gelar Admiral untuk keberaniannya ini.


Pada zaman pemerintahan Sultan Alaudin Riayat Syah IV (memerintah tahun 1589-1604) tersebut, pernah dibentuk sebuah armada yang sebagian prajuritnya terdiri dari janda-janda (inong balee) pahlawan yang telah tewas. Armada ini dipimpin Laksamana Malahayati. Dalam buku "Vrouwelijke Admiral Malahayati", penulis wanita Belanda Marie van Zuchtelen menyebutkan bahwa armada ini terdiri dari sekitar 2.000 prajurit perempuan yang gagah, tangkas dan berani.


Demikian pula pada masa pemerintahan Sultan Muda Ali Riayat Syah V (1604-1607), pernah dibentuk "Suke Kaway Istana" atau Resimen Pengawal Istana yang terdiri dari "Si Pai Inong" (prajurit-prajurit wanita) di bawah pimpinan dua perempuan yaitu Laksamana Leurah Ganti dan Laksamana Muda Tjut Meurah Inseuen. Dua pimpinan inilah yang berhasil membebaskan Iskandar Muda dari tawanan Alaidin Riayat Syah V.

Kebelakang lagi, kita mengenal Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Syah, Sri Ratu Nur Alam Nakiatuddin Syah, Sri Ratu Inayat Syah Zakiatuddin Syah, dan Sri Ratu Kumala Syah. Hingga yang lebih disebut heroik semacam Cut Nyak Dien yang adalah keturunan dari bangsawan putri Nanta Seutia Raja Ulebalang Mukim. Serta Cut Meutia, yang lahir tahun 1870, aktif di daerah Pase bergerilya bersama suaminya melawan Belanda.

Hanya saja menjadi pertanyaan, kalau Laskar Inong Balee asuhannya GSA ini memang betul hebat, siapakah perempuan besar yang ada di belakangnya? Atau pihak GSA hanya memanfaatkan melankholitas sejarah perjuangan wanita terdahulu yang memang jelas berbeda dengan perjuangan saat ini? Dengan kata lain mereka hanya memanfaatkan wanita-wanita semata?

Lalu pertanyaan yang paling adalah: kemanakah wanita-wanita itu sekarang? Tidak ada yang tahu. Yang jelas, jika ada wanita yang tertembak dalam Darurat Militer kali ini, tidak akan ada yang mengaku dari Laskar Inong Balee. Mereka akan disebut sipil tak berdosa. (jones sirait)